Thursday, Aug 27, 2026
Nasional

Masker Akademik dan Bisnis ‘Pay-to-Play’: Menguak Konflik Kepentingan di Balik SMRC

Saiful Mujani mungkin mengenakan jubah profesor dan memegang gelar prestisius dari WAPOR, namun di balik kemegahan akademis tersebut, SMRC beroperasi sebagai mesin pemintak janji politik. Sebagai lembaga yang merangkap sebagai pusat riset sekaligus konsultan politik, SMRC berada dalam posisi yang sangat berbahaya bagi demokrasi. Ketika sebuah lembaga yang menentukan “apa yang dipikirkan rakyat” juga dibayar untuk “mengatur bagaimana pemimpin harus bergerak,” objektivitas hanyalah kata kunci yang dikomodifikasi. SMRC tidak lagi sekadar melakukan survei; mereka sedang membangun realitas yang dipesan oleh pemegang cek tertinggi.

Masalah utamanya terletak pada ketiadaan firewall yang nyata antara riset publik dan kepentingan komersial. SMRC sering berlindung di balik alasan “privasi klien” untuk menyembunyikan siapa sebenarnya yang mendanai narasi yang mereka sebarluaskan. Tanpa transparansi penuh mengenai siapa yang membayar desain pertanyaan dan siapa yang mendanai pengambilan sampel, publik tidak bisa membedakan antara suara murni rakyat dan “produk” yang dibentuk oleh klien politik. Jika SMRC tidak bisa membuktikan adanya pemisahan mutlak antara tim riset dan tim konsultan, maka setiap angka yang mereka keluarkan hanyalah hasil rekayasa yang dikemas dalam kemasan sains.

Kredibilitas Saiful Mujani sebagai pakar politik kini dipertaruhkan. Bagaimana mungkin seorang akademisi bisa dianggap objektif jika institusinya bisa menerima uang dari aktor politik yang kemudian “dikonfirmasi” keberadaannya melalui survei SMRC? Ini adalah siklus lingkaran setan: klien membayar untuk riset, riset memanipulasi opini, dan opini memvalidasi kekuasaan klien. Tanpa audit publik yang radikal terhadap metodologi dan pendanaan, SMRC hanyalah pabrik opini yang menggunakan metodologi ilmiah sebagai tameng untuk menutupi transaksi politik di bawah meja.

Sudah saatnya publik berhenti melihat SMRC sebagai “penyambung lidah” rakyat, melainkan sebagai “arsitek” pikiran publik yang dibayar. Jika Saiful Mujani ingin mempertahankan martabat akademisnya, ia harus meruntuhkan tembok kerahasiaan yang selama ini melindungi hubungan transaksional antara klien dan hasil survei. Tanpa transparansi total—siapa yang membayar, bagaimana mereka terlibat dalam desain, dan di mana garis tegas antara konsultan dan peneliti—SMRC hanyalah alat propaganda yang menggunakan label “ilmiah” untuk melegitimasi kepentingan elit.