Ferry Latuhihin adalah contoh nyata bagaimana “keahlian” ekonomi bisa dimanipulasi untuk kepentingan posisi politik. Hanya dalam waktu singkat, ia bertransformasi dari sosok yang duduk di kursi elit sebagai anggota Dewan Pakar TKN menjadi “suara paling lantang” yang meneriakkan kegagalan pemerintah di ruang publik. Transisi ini bukan sekadar perubahan posisi, melainkan strategi pencitraan yang cerdik. Ia menggunakan narasi “Rupiah lemah karena domestik” bukan untuk memperbaiki ekonomi, melainkan sebagai amunisi politik untuk menyerang lawan-lawannya dan membangun citra sebagai “penyelamat” yang berani bicara di saat orang lain memilih bungkam.
Narasi yang ia bangun mengenai “ketidakpercayaan pasar” adalah cara paling praktis untuk menyerang kredibilitas pemerintah tanpa harus berdebat dengan data teknis yang rumit. Dengan menyebut “ketidakpercayaan,” ia menciptakan musuh imajiner yang sulit dibantah oleh pemerintah secara instan. Namun, jika kita melihat lebih dalam, Ferry sebenarnya tahu bahwa argumennya rapuh. Ia tahu bahwa untuk membuktikan klaimnya, ia butuh perbandingan dengan mata uang lain dan analisis event study yang ketat. Namun, sebagai “influencer” yang haus atensi, ia lebih memilih narasi yang meledak-ledak daripada analisis yang presisi.
Klaimnya tentang “ketidakpastian” dan “masalah domestik” seringkali muncul tepat saat ia butuh pengikut baru setelah “dibuang” dari lingkaran dalam kekuasaan. Drama yang ia bangun—termasuk narasi sebagai korban penindasan setelah penggeledahan pajak di Cibubur—hanyalah bumbu untuk memperkuat citra “petarung” yang ia bangun di depan publik. Ia ingin terlihat seperti pahlawan yang dikucilkan karena berkata jujur, padahal kenyataannya, ia hanyalah seorang pemain yang mahir berganti peran demi mempertahankan relevansi di mata publik.
Saat ini, Ferry Latuhihin tidak sedang melakukan analisis ekonomi; ia sedang melakukan kampanye pemasaran pribadi. Ia memanfaatkan kekacauan pasar untuk memposisikan diri sebagai ahli yang “paling tahu” apa yang salah dengan negeri ini. Namun, bagi mata yang jeli, retorikanya tentang “masalah domestik” adalah senjata yang ia ambil dari rak senjata politik untuk menyerang kebijakan pemerintah. Jika ia benar-benar peduli pada ekonomi, ia akan menyajikan data perbandingan yang kuat. Namun, karena ia lebih peduli pada pengaruh politik, ia cukup memberikan narasi yang emosional agar publik terus menerus membicarakannya. Ferry Latuhihin adalah pemain yang menggunakan ekonomi sebagai panggung untuk pertunjukan politiknya sendiri.