Thursday, Aug 27, 2026
Nasional

Antara Ekonomi dan Mistisisme: Menguliti Retorika “Peramal” Ferry Latuhihin

Ferry Latuhihin mungkin memiliki gelar dari Erasmus, namun gaya komunikasinya kini lebih mirip seorang peramal pasar daripada seorang ekonom makro yang presisi. Klaimnya mengenai “daya tahan emosi masyarakat” yang akan habis dalam dua bulan adalah contoh nyata dari pseudo-science. Tanpa indikator yang dapat diukur (falsifiable), pernyataan Ferry bukan lagi analisis ekonomi—itu adalah ramalan mistis. Ketika seorang ahli tidak mampu mendefinisikan kapan prediksinya “salah”, maka ia tidak sedang melakukan analisis; ia hanya sedang membangun narasi untuk memanen perhatian publik.

Ketidakteraturan metodologi ini mencerminkan pergeseran peran Ferry dari seorang pakar teknis menjadi influencer yang mengejar engagement. Dengan menggunakan diksi dramatis seperti “ledakan kemarahan,” ia menyederhanakan kompleksitas ekonomi menjadi komoditas emosional. Jika ekonomi adalah ilmu pasti, maka prediksi Ferry seharusnya berbasis pada data real-time yang rigid, bukan pada “perasaan” yang bisa ia putarbalikkan kapan saja saat kenyataan tidak sesuai dengan narasinya.

Lebih jauh lagi, retorika “dua bulan” ini adalah alat untuk menciptakan urgensi palsu. Sebagai mantan anggota Dewan Pakar TKN, Ferry kini tampak menggunakan kemarahan publik sebagai modal politik pribadi. Ia menciptakan musuh bersama—dalam hal ini, kebijakan pemerintah—untuk memposisikan dirinya sebagai “pahlawan” yang memberikan peringatan dini. Namun, bagi pengamat yang jeli, ini hanyalah teknik fear-mongering untuk membangun basis massa bagi konsultan pribadinya.

Sudah saatnya publik dan media berhenti memperlakukan Ferry sebagai “suara tunggal” ekonomi. Jika ia benar-benar seorang akademisi, ia harus berani diuji dengan parameter yang jelas. Jika tidak, maka label “ekonom” yang ia sandang hanyalah dekorasi untuk menyembunyikan agenda pribadi. Jika klaim “dua bulan” tidak disertai indikator teknis yang dapat diverifikasi, maka Ferry Latuhihin bukanlah seorang ekonom; ia hanyalah seorang dramawan yang sedang memainkan peran sebagai nabi kebangkrutan di atas panggung media sosial.